Pemprov Akan Tarik Regulasi
Ketua Umum KADIN Jawa Barat, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Konsuler Menteri Perdagangan dan Ekonomi Cina Fang Quichen pada acara "Promotion Conference of The 107th Session of The Canton Fair" di Hotel Hyatt Bandung, Rabu
Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan mengatakan siap mendukung dunia usaha menyusul pemberlakuan perjanjian perdagangan bebas ASEAN-Cina (ACFTA), dengan menarik berbagai regulasi yang berpotensi memperlemah daya saing.
”Selain membangun infrastruktur, jalan, jembatan, dan irigasi untuk mendorong kebangkitan sektor riil, kita juga akan upayakan penyederhanaan perizinan,” ujarnya saat bertemu dengan Konsuler Menteri Perdagangan dan Ekonomi Cina Fang Quichen, Presiden Ekspor dan Impor Cina Wang Zhiping, dan 250 pengusaha Jawa Barat, di Hotel Hyatt, Rabu (13/1).
Heryawan juga meminta para pelaku bisnis di Jabar agar bisa menyiasati ACFTA, sehingga bisa menghindarkan diri dari dampak terburuk adanya pasar bebas ASEAN-Cina. Baik dengan strategi bisnis maupun berbagai inovasi, sehingga bisa mencari peluang dari perjanjian.
Menyinggung reaksi beberapa kalangan yang menyatakan kekhawatiran menyusul pemberlakukan ACFTA, dia menganggapnya sebagai hal yang wajar. Apalagi, faktanya ada beberapa sektor industri yang memang belum siap menghadapi ACFTA. Oleh karena itu, Pemprov Jabar mengirimkan rekomendasi kepada pemerintah pusat agar melakukan penangguhan ACFTA di beberapa sektor indutri.
”Beberapa sektor memang belum siap, perlu waktu 2-3 tahun. Akan tetapi, suka tidak suka semua pihak harus bersiap karena memang tidak bisa dihindari," katanya.
Investasi Cina
Sementara itu, Konsulat Menteri Perdagangan dan Ekonomi Cina Fang Quichen mengatakan, ACFTA tidak sebatas terkait dengan pemasaran produk, tetapi juga pengembangan kerja sama dengan perusahaan di negara-negara ACFTA.
Menurut Fang, investasi Cina di Indonesia yang sudah berlangsung lama, dengan adanya ACFTA ini akan semakin intensif. Dia mencontohkan, beberapa projek Cina seperti dalam projek pengadaan listrik 10.000 mw, delapan puluh persen investasinya berasal dari Cina. Begitu pun dalam pembuatan Bendungan Jatigede dan Jembatan Suramadu.
Menyinggung produk Cina yang harga jualnya lebih murah, Fang mengatakan itu hasil dari proses panjang. Terutama dari proses pengadopsian best practice yang dilakukan negara-negara yang sukses ekonominya di dunia. Menyinggung berbagai insentif yang diberikan Cina, dia mengatakan saat ini sudah tidak ada lagi.
Sementara pendiri KIKT (Kadin Indonesia Komite Tiongkok) Jabar, Djonni Andhella, yang menjadi penyelenggara acara tersebut mengatakan pihaknya mengharapkan pengusaha Jabar bisa mendapatkan peluang-peluang baru untuk mengembangkan bisnisnya.
”Selain merupakan ancaman, ACFTA juga merupakan peluang. Misalnya saja melakukan kerja sama bisnis atau mencoba membuka perdagangan di Cina. Dengan penduduk 1,3 miliar, Cina tentunya merupakan pasar yang potensial,” katanya.
Sementara Presiden Ekspor dan Impor Cina, Wang Zhiping, mengajak para pengusaha Jabar untuk berpartisipasi pada Canton Fair, Mei 2010. Menurut dia, Canton Fair merupakan pameran produk terbesar di dunia. Dia mengharapkan acara itu bisa dimanfaatkan pengusaha-pengusaha Jabar.