
Memetakan Peluang & Tantangan Dunia Usaha oleh Agung Suryamal (Bisnis Indonesia, Arah Bisnis & Politk 2016)
Meski berat, perlahan tapi pasti dunia usaha Jawa Barat (Jabar) dapat melalui tahun 2015. Semua tahu, tidak mudah melalui tahun 2015 yang penuh tantangan ini. Refleksi indikator-indikator ekonomi makro maupun mikro Jabar menunjukkan pada kita, berbagai aspek ekonomi yang langsung beririsan dengan sektor bisnis tergerus tahun ini (2015).
Nilai kumulatif ekspor Jabar per Agustus 2015 turun 5,61% dibandingkan periode yang sama (2014). Lebih dari setahun terakhir, prestasi ekspor non migas tertinggi hanya mampu mencapai 2,36 Milyar USD (Oktober 2014), posisi itu terus tergerus dan mencapai titik terendahnya bulai Juli 2015 (1,83 Miliar USD).
Periode April hingga Juni 2015, pertumbuhan ekonomi Jabar hanya mencapai 4,88%, padahal periode yang sama tahun lalu sempat mencapai 5,18%. Meski demikian, sektor riil masih tetap bisa diandalkan. Andil pertumbuhan terbesar masih disumbang oleh sektor industri pengolahan (1,37%), dari sisi pengeluaran kontribusi ekspor juga masih yang tertinggi andilnya terhadap pertumbuhan ekonomi Jabar (4,22%).
Sejumlah tantangan makro ekonomi masih menghadang hingga akhir tahun 2015. Fluktuasi kurs Rupiah terhadap Dolar AS meski sudah agak melambat, namun masih berpotensi menimbulkan ketidakstabilan. Tali temali kaitan ekspor dan impor sangat dipengaruhi oleh kondisi kurs, efeknya sangat besar terhadap kondisi perekonomian Jabar.
Potensi kenaikkan ongkos produksi di sektor bisnis menjadi bagian yang sulit dihindarkan. Biaya impor meningkat, tenaga kerja menuntut kenaikkan upah, bunga tidak kunjung turun, sedangkan disisi lain permintaan domestik dan luar negeri melambat.
Mengakhiri tahun 2015 mulai banyak yang kita lakukan. Pemerintah pusat mulai mengeluarkan berbagai paket kebijakan ekonomi. Sampai hari ini sudah 6 (enam) paket kebijakan yang dikeluarkan pemerintah pusat. Akselerasi paket-paket kebijakan ekonomi juga disambut baik oleh kalangan pemerintah di daerah.
Paket-paket kebijakan ekonomi tersebut tahun depan akan mulai terlihat geliatnya. Ada paket-paket yang memiliki efek langsung, namun sebagian efeknya akan terasa dalam jangka menengah dan panjang. Efek jangka pendek akan terasa dari relaksasi kebijakan fiskal terhadap perekonomian, mulai dari alokasi anggaran untuk infrastruktur yang meningkat serta dipercepat, berbagai insentif pengurangan pajak, deregulasi dan debirokratisasi jangka waktu proses perijinan, paket kebijakan sektor properti, hingga kepada kejelasan perhitungan upah.
Berbagai paket kebijakan, yang tahun depan akan terlihat hasilnya seperti insetif terhadap pengembangan kawasan ekonomi khusus (KEK), relaksasi kebijakan di sektor keuangan, kebijakan disektor bahan bakar dan terkait sektor pertanian, dan sebagainya. Untuk itu, jelas kalangan dunia usaha akan lebih optimis memasuki tahun 2016. Untuk itu dunia usaha jelas merespons baik insentif-insentif kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Peran individu pelaku usaha dan asosiasi dunia usaha juga dapat terus simultan mengkomunikasikan permasalahan sektor usaha dengan otoritas kebijakan.
PERAN PELAKU USAHA
Tidak berhenti sebatas kebijakan yang ada, tetapi juga merespon perkembangan-perkembangan yang terjadi. Apa yang dilakukan para pelaku usaha saat ini seperti mengurangi faktor risiko produksi, dengan langkah efisiensi bahan baku, efisiensi barang modal, reschedule investasi, pengurangan TK, dapat dilakukan dengan proporsional dan berimbang.
Kebijakan jangka pendek, lebih merupakan reaksi sesaat menunggu momentum yang lebih baik. Reaksi tersebut paling tidak diupayakan dilakukan dengan pertimbangan meminimalkan efeknya terhadap perekonomian maupun sektor bisnis. Langkah-langkah tersebut juga dibarengi dengan upaya pengembangan pasar non tradisional, insentif pemasaran, dan inovasi.
Sejak awal Kadin Jabar dan seluruh instrument organisasi di dalamnya telah menyampaikan kisi-kisi stabilitas perekonomian kepada seluruh pemangku kepentingan (stakeholders). Harapannya agar implementasi paket-paket kebijakan ekonomi dapat terlaksana sesuai target.
Dunia usaha tidak saja berharap pemerintah konsisten dalam merealisasikan paket-paket kebijakan ekonomi, namun dapat secara rutin dan dinamis mengevaluasi implementasinya. Kemudian, karena daya saing sektor bisnis tidak saja ditentukan oleh faktor eksternal, secara domestik pemerintah juga diharapkan dapat meniadakan faktor-faktor yang dapat menekan daya beli masyarakat.
Hal-hal tersebut diharapkan dapat sejalan dengan upaya mempercepat stabilisasi kurs, pemberian insentif fiskal bagi sektor bisnis dalam kaitannya dengan penggunaan tenaga kerja, penggunaan kandungan lokal serta pertimbangan dampak krisis. Satu hal yang juga tidak terlupakan adalah terus mendorong daya saing sektor riil. Tahun depan akselerasi sektor keuangan/perbankan dengan sektor riil betul-betul harus terealisasi, karena sinerginya disana.
Upaya yang dilakukan pelaku usaha di Jabar tahun depan (2015) dapat sepenuhnya didukung oleh pemerintah pusat dan daerah. Sejalan dengan ekspektasi membaiknya kondisi perekonomian internasional dan daya beli domestik, permintaan output sektor barang dan jasa Jabar akan meningkat dibandingkan tahun ini. Sektor usaha akan kembali pulih, penyerapan tenaga kerja akan meningkat, investasi akan bertambah.
Kepastian ekonomi politik tahun depan juga diharapkan lebih stabil. Kegaduhan-kegaduhan politik diharapkan jangan sampai menggangu serta merembet pada kegaduhan ekonomi. Kepastian penegakan hukum juga diharapkan berimplikasi positif bagi pengembangan sektor bisnis. Pengaruh non ekonomi dan bisnis tidak bisa dipungkiri sangat besar pengaruhnya terhadap pengembangan sektor usaha.
Memasuki tahun 2016 pelaku usaha Jabar akan dihadapkan dengan implementasi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Iklim MEA bukanlah iklim baru, kondisi yang hampir sama sudah berlangsung sejalan dengan implementasi liberalisasi berbagai paket-paket kerjasama internasional yang sudah efektif jauh sebelum implementasi MEA (ACFTA dan sebagainya).
Namun ada letak strategisnya karena lebih separoh perdagangan dan investasi di Jabar terkait dengan perekonomian ASEAN serta regulasi MEA yang lebih multisektoral, maka hal-hal spesifik perlu mendapat perhatian lebih. Perhatian spesifik MEA terutama menyangkut peluang ekspansi pelaku usaha negara-negara ASEAN ke Jabar.
Ekspansi pelaku-pelaku usaha ASEAN ke Jabar diharapkan dapat mendorong adanya kemitraan pengusaha Jabar dengan pengusaha ASEAN, sehingga perekonomian Jabar tidak saja menjadi basis pasar namun juga menjadi basis produksi dan investasi.
Agung Suryamal, Ketua Kadin Jawa Barat
(Bisnis Indonesia, Arah Bisnis & Politik 2016)